DIRGAHAYU.ID ,Sumbar — Kolaborasi kemanusiaan antara Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Kolaborasi LPPM Universitas Jambi dan PMI Provinsi Jambi Dampingi Warga Terdampak Bencana di Sumatra Barat Jambi dan Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Jambi terus menunjukkan peran nyatanya dalam penanganan bencana di wilayah Sumatra Barat.
Sejak 6 Desember 2024, tim Satuan Tugas (Satgas) Bencana Sumatra telah diterjunkan ke sejumlah lokasi terdampak bencana, khususnya di Kabupaten Solok dan Batu Busuk, untuk mendampingi masyarakat yang terdampak secara langsung.
Salah satu anggota Satgas, Sukmono (Datuk Tejo Tedjo), menyampaikan bahwa hingga akhir Desember, tim telah hampir tiga pekan berada di lapangan.
Kehadiran Satgas tidak hanya fokus pada penyaluran bantuan darurat, tetapi juga pada upaya pemulihan sosial dan penguatan kapasitas masyarakat agar lebih siap menghadapi potensi bencana ke depan.
“Sejak tanggal 6 Desember kami bergabung sebagai Satgas Bencana Sumatra di wilayah Sumatra Barat. Selama hampir tiga minggu ini, kami mendampingi langsung masyarakat yang terdampak bencana, baik dari sisi kebutuhan dasar, kesehatan, hingga penguatan psikososial,” ujar Sukmono.
#Layanan Kemanusiaan Terpadu
Dalam pelaksanaan tugasnya, Satgas Bencana Sumatra yang melibatkan LPPM Universitas Jambi dan PMI Provinsi Jambi memberikan berbagai layanan kemanusiaan yang terintegrasi. Bantuan tidak hanya berorientasi pada kondisi darurat, tetapi juga menyentuh aspek keberlanjutan pemulihan masyarakat.
Adapun layanan yang telah diberikan kepada masyarakat terdampak antara lain distribusi logistik kebutuhan pokok, penyediaan air bersih beserta tandon (tedmon) untuk menjamin akses sanitasi yang layak, serta pemeriksaan kesehatan bagi warga yang mengalami gangguan kesehatan pascabencana.
Selain itu, Satgas juga memberikan dukungan psikologis (psychological support), terutama bagi anak-anak yang mengalami trauma akibat bencana. Pendampingan ini dinilai sangat penting untuk memulihkan kondisi mental anak agar dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari secara normal.
“Anak-anak menjadi kelompok paling rentan saat terjadi bencana. Oleh karena itu, pendampingan psikologis menjadi salah satu fokus utama kami agar mereka tidak mengalami trauma berkepanjangan,” tambahnya.
#Dukungan Sarana dan Kesiapsiagaan.
Tidak berhenti pada layanan dasar, Satgas juga menyalurkan berbagai bantuan sarana pendukung, seperti distribusi kasur, lampu darurat (emergency lamp), serta alat-alat kebersihan untuk membantu masyarakat menjaga kondisi lingkungan pascabencana.
Di sisi lain, Satgas turut melakukan penyusunan peta rawan bencana sebagai bagian dari upaya mitigasi. Peta ini menjadi instrumen penting untuk membantu masyarakat dan pemerintah setempat mengenali wilayah-wilayah berisiko, sekaligus menjadi dasar perencanaan penanggulangan bencana di masa mendatang.
Langkah ini sejalan dengan pendekatan pengurangan risiko bencana berbasis komunitas, yang menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam membangun ketangguhan wilayahnya.
#Pendampingan Masyarakat Tangguh Bencana.
Salah satu capaian penting dari kegiatan Satgas adalah pendampingan kelompok Masyarakat Tangguh Bencana (MTB). Program ini bertujuan meningkatkan kapasitas warga dalam memahami risiko bencana, merespons secara cepat, serta melakukan langkah-langkah penyelamatan mandiri ketika bencana terjadi.
Puncak dari pendampingan tersebut ditandai dengan pembentukan Masyarakat Tangguh Bencana di Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Kota Padang. Melalui pembentukan ini, warga diharapkan tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi juga subjek utama dalam upaya mitigasi dan kesiapsiagaan bencana.
“Kami ingin masyarakat tidak selalu bergantung pada bantuan luar. Dengan pembentukan kelompok masyarakat tangguh bencana, warga memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kesiapan untuk menghadapi situasi darurat,” jelas Sukmono.
#Sinergi Akademisi dan Kemanusiaan.
Kolaborasi antara LPPM Universitas Jambi dan PMI Provinsi Jambi mencerminkan sinergi yang kuat antara dunia akademik dan lembaga kemanusiaan. Perguruan tinggi melalui LPPM tidak hanya berperan dalam riset, tetapi juga hadir langsung di tengah masyarakat melalui pengabdian nyata.
Keterlibatan akademisi dalam Satgas Bencana memberikan nilai tambah, khususnya dalam pendekatan berbasis data, pemetaan risiko, serta pendampingan masyarakat secara sistematis. Sementara PMI Provinsi Jambi berperan penting dalam aspek teknis kemanusiaan dan jejaring relawan.
Kolaborasi ini diharapkan dapat menjadi model penanganan bencana lintas daerah yang berkelanjutan, tidak hanya berfokus pada respons darurat, tetapi juga pada pemulihan dan penguatan ketangguhan masyarakat.
#Harapan ke Depan.
Melalui berbagai layanan dan pendampingan yang telah dilakukan, Satgas Bencana Sumatra berharap kehadirannya dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat terdampak di Sumatra Barat. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi bukti bahwa solidaritas lintas daerah dan kolaborasi antar-lembaga merupakan kunci dalam menghadapi bencana.
“Kami berharap apa yang kami lakukan dapat meringankan beban masyarakat dan menjadi bekal bagi mereka untuk lebih siap menghadapi potensi bencana di masa depan,” tutup Sukmono.
Kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa penanggulangan bencana bukan hanya soal bantuan sesaat, tetapi tentang membangun ketangguhan masyarakat agar mampu bangkit dan bertahan menghadapi berbagai risiko alam yang mungkin terjadi.***/Hi
