Prof. Dr. Mukhtar Latif, MPd.
(Guru Besar – Ketua Senat UIN STS Jambi)
A. Pendahuluan
SUDUTJAMBI.COM – Abad ke-21 ditandai oleh percepatan globalisasi dan digitalisasi yang mengubah lanskap kehidupan manusia secara fundamental. Perubahan ini tidak hanya menyentuh aspek teknologi, tetapi juga struktur sosial, ekonomi, budaya, dan bahkan spiritualitas manusia. Di tengah derasnya arus transformasi tersebut, manusia modern kerap berada dalam kondisi gamang, sebagian mampu beradaptasi dan mengambil peluang, sementara sebagian besar lainnya tertinggal dan tidak siap menghadapi tuntutan zaman. Fenomena ini dikenal sebagai global and digital skills gap (World Economic Forum, 2023).
Tagihan sumber daya manusia (SDM) abad 21 bersifat multidimensional. SDM tidak lagi cukup dibekali keterampilan teknis, tetapi dituntut memiliki kecakapan berpikir kritis, adaptif, kolaboratif, beretika, dan berkesadaran global. Pertanyaan mendasarnya adalah, kecakapan apa yang harus dimiliki manusia di era global dan digital? Kecerdasan apa yang perlu diperkuat agar manusia tidak tercerabut dari nilai dan makna? Dan bagaimana posisi strategis perguruan tinggi dalam menyemai SDM unggul yang relevan sekaligus berkarakter?
B. Kecakapan dan Kecerdasan Abad 21: Perspektif Era Global dan Digital
Literatur global menyebut kecakapan abad 21 sebagai integrasi antara hard skills dan soft skills. Trilling dan Fadel (2009) merumuskan empat kecakapan utama (4C): critical thinking, creativity, communication, dan collaboration. Kerangka ini kemudian diperkaya oleh OECD (2021) dan UNESCO (2022) dengan penekanan pada literasi digital, literasi data, kewargaan global, dan kemampuan belajar sepanjang hayat.
Dari perspektif kecerdasan, teori multiple intelligences Gardner menegaskan bahwa kecerdasan manusia bersifat majemuk dan tidak tunggal (Gardner, 2011). Dalam konteks digital, kecerdasan kognitif (IQ) harus bersinergi dengan kecerdasan emosional (Goleman, 2023), kecerdasan sosial, dan kecerdasan moral. Tanpa integrasi ini, manusia berisiko menjadi sekadar operator teknologi, bukan subjek bermakna yang mengendalikan arah peradaban.
C. Kecakapan IPTEK, Kecerdasan Aqli dan Hati Nurani: Sebuah Keniscayaan
Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) merupakan keniscayaan sejarah peradaban. Namun, modernitas juga membawa resiko baru. Beck (1992) menyebut masyarakat modern sebagai risk society, di mana kemajuan teknologi justru melahirkan krisis ekologis, sosial, dan moral. Karena itu, kecakapan IPTEK harus dibingkai oleh kecerdasan aqli (rasional-etis) dan hati nurani.
Dalam khazanah Islam klasik, Ibn Sina menegaskan integrasi antara al-‘aql an-nazhari (akal teoretik) dan al-‘aql al-‘amali (akal praktis-etis). Al-Ghazali lebih jauh mengingatkan bahwa ilmu tanpa akhlak hanya akan melahirkan kerusakan yang sistemik. Gagasan ini sejalan dengan diskursus kontemporer tentang ethical technology dan responsible artificial intelligence (Floridi, 2021).
D. Posisi dan Fungsi Perguruan Tinggi: Menyemai dan Membingkai SDM Abad 21
Perguruan tinggi memegang peran strategis dalam membingkai kecakapan SDM abad 21. Ia tidak cukup berfungsi sebagai pabrik pengetahuan (knowledge factory), tetapi harus menjadi ruang pembentukan manusia seutuhnya. Barnett (2011) menyebut universitas abad 21 sebagai ecological university, yakni institusi yang responsif terhadap perubahan global sekaligus bertanggung jawab secara sosial dan moral.
Transformasi kurikulum menjadi keniscayaan, dari pendekatan berbasis konten menuju capability-based curriculum. Pembelajaran berbasis proyek, riset kolaboratif, interdisipliner, serta penguatan literasi digital dan etika harus berjalan beriringan. Dengan demikian, lulusan perguruan tinggi tidak hanya employable, tetapi juga meaningful bagi masyarakat dan peradaban global.
E. Spirit Islam sebagai Sandaran Spiritual dan Filosofis
Islam memandang manusia sebagai khalifah fil ardh (QS. Al-Baqarah [2]: 30), yakni subjek moral yang bertanggung jawab atas pengelolaan ilmu dan teknologi. Al-Qur’an menegaskan pentingnya keseimbangan antara akal dan hati, sebagaimana firman Allah: “Afala ta‘qilun” dan “lahum qulubun la yafqahuna biha” (QS. Al-A‘raf [7]: 179).
Rasulullah SAW bersabda: “Innama bu‘itstu li utammima makarimal akhlaq” (HR. Ahmad). Mufasir dan pemikir kontemporer seperti Fazlur Rahman dan Quraish Shihab menegaskan bahwa kemajuan ilmu harus bermuara pada kemaslahatan, keadilan, dan pemuliaan martabat manusia. Spirit inilah yang menjadi fondasi etik pengembangan SDM global abad 21.
F. Penutup
Membingkai kecakapan SDM abad 21 menuntut integrasi antara penguasaan IPTEK, kecerdasan kognitif, emosional, moral, dan spiritual. Kegamangan manusia modern sejatinya bukan disebabkan oleh kekurangan teknologi, melainkan oleh krisis nilai dan makna. Perguruan tinggi memiliki peran sentral sebagai penjaga arah peradaban: menyemai keterampilan relevan, membingkai kecerdasan utuh, dan menautkan kemajuan global dengan kebijaksanaan klasik dan spiritualitas Islam.
Referensi:
1. Al-Farabi. Ara’ Ahl al-Madinah al-Fadilah. Beirut: Dar al-Masyriq.
2. Al-Ghazali. Ihya’ ‘Ulum al-Din. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
3. Al-Ghazali. Mizan al-‘Amal. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
4. Al-Raghib al-Isfahani. Al-Dzari‘ah ila Makarim al-Shari‘ah. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
5. Ibn Khaldun. Al-Muqaddimah. Beirut: Dar al-Fikri.
6. Ibn Sina. Al-Shifa’. Cairo: Dar al-Fikr.
7. Floridi, L. (2021). Ethics of Artificial Intelligence. Oxford: Oxford University Press.
8. Gardner, H. (2011). Frames of Mind. New York: Basic Books.
9. Goleman, D. (2023). Optimal: How to Sustain Personal and Organizational Excellence. New York: HarperCollins.
10. Harari, Y. N. (2020). 21 Lessons for the 21st Century. London: Jonathan Cape.
11. OECD. (2021). Education at a Glance. Paris: OECD Publishing.
12. Schwab, K., & Malleret, T. (2020). The Great Reset. Geneva: World Economic Forum.
13. Smith, M. D. (2023). The Abundant University. Cambridge: MIT Press.
14. UNESCO. (2022). Reimagining Our Futures Together. Paris: UNESCO.
15. World Economic Forum. (2023). Future of Jobs Report. Geneva: WEF.
16. Quraish Shihab. (2019). Tafsir Al-Mishbah. Jakarta: Lentera Hati.
17. Rahman, F. (2020). Major Themes of the Qur’an. Chicago:18. University of Chicago Press.*

https://shorturl.fm/XbH5n