SUDUTJAMBI.COM ,Bungo — Sebuah video singkat masuk ke ponsel Hasan Basri Agus (HBA) pada akhir Juni 2025 lalu. Di layar, terlihat puluhan santri duduk di lantai yang retak-retak, bersila dengan kitab kuning di pangkuan. Beberapa tampak berdesakan di ruang sempit dengan dinding yang mulai berlubang. Fasilitas belajar jelas jauh dari kata layak.
Bagi sebagian orang, video itu mungkin hanya potret biasa dari pesantren di pelosok. Namun bagi HBA, anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar Dapil Jambi yang kini duduk di Komisi VIII, rekaman tersebut menjadi panggilan hati. Ia memutuskan untuk datang sendiri bersama Tim Tenaga Ahli DPR RI.
Perjalanan Panjang ke Pelosok
Perjalanan menuju Pondok Pesantren Babul Muarrif di Desa Timbulasi, Kecamatan Bathin III Ulu, Kabupaten Bungo, bukan perkara mudah. Dari Kota Jambi, ia harus menempuh perjalanan darat lebih dari delapan jam. Jalan berliku, sebagian masih tanah, bahkan jembatan gantung dengan lantai berlobang yang rawan ambruk harus ia seberangi.
“Kalau kita hanya mendengar cerita, mungkin tidak terasa. Tapi kalau datang langsung, kita akan tahu betapa beratnya perjuangan para santri menuntut ilmu di sini,” ujar HBA kepada wartawan.
Setibanya di lokasi, matanya menangkap kenyataan yang lebih pahit. Asrama sekaligus ruang belajar berdiri rapuh: lantai retak, dinding berlubang, fasilitas mandi dan WC seadanya, serta ketiadaan pasokan air bersih. Namun, di balik itu semua, ia melihat semangat para santri yang tetap mengaji dengan tekun.
Bantuan dari Kantong Pribadi
HBA tidak datang dengan tangan kosong. Ia membawa bantuan pribadi senilai Rp27,8 juta. Melalui Syahril, Tenaga Ahli Dapil Bungo, bantuan itu diwujudkan dalam bentuk 100 kasur lipat busa, sumur gali lengkap dengan mesin air Panasonic, bak mandi ukuran 3x2x1 meter, 850 bata merah, 15 sak semen, paralon berbagai ukuran, cat, besi, serta perlengkapan sanitasi.
“Insya Allah Rabu besok saya kembali ke pondok untuk menyerahkan tambahan berupa bola voli dan bola kaki dari Pak HBA,” kata Syahril kepada wartawan pada senin (25/8/2025).
“Beliau juga sudah menyiapkan bantuan aspirasi untuk rehabilitasi asrama dan pembangunan bak mandi santriwati.”
Sambutan Penuh Haru
Para pengajar, santriwan, dan santriwati menyambutnya dengan penuh rasa syukur. Mereka tidak hanya mengucap terima kasih, tetapi juga memanjatkan doa agar HBA selalu diberi kesehatan dan perlindungan oleh Allah SWT.
Bagi mereka, bantuan itu bukan sekadar materi. Lebih dari itu, kedatangan seorang pejabat ke pelosok yang jauh dari hiruk pikuk kota adalah pengakuan bahwa mereka ada, bahwa perjuangan mereka menimba ilmu agama tidak diabaikan.
Pesantren dengan Segudang Capaian
Ponpes Babul Muarrif berdiri sejak 2010 dengan fokus pada pendidikan kitab kuning. Meski fasilitas serba terbatas, para pengajarnya yang merupakan alumni pesantren di Aceh dan UIN Jambi berhasil membina sekitar 300 santri. Tak sedikit dari mereka yang telah mencatat prestasi, mulai dari kompetisi keagamaan tingkat nasional hingga seleksi pendidikan ke luar negeri.
Namun, kondisi fisik pondok tetap menyisakan banyak pekerjaan rumah. Asrama yang dipakai bergantian, ruang belajar sempit, hingga sanitasi yang buruk menjadi tantangan sehari-hari.
Harapan Baru
Kehadiran HBA dengan langkah nyata memberi warna berbeda. Bukan hanya karena bantuan kasur, sumur, atau bata merah yang ia berikan, melainkan karena hadirnya secercah harapan baru di mata para santri. Bahwa perjuangan mereka tidak akan selamanya ditemani keterbatasan.
“Kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi? Santri-santri ini calon pemimpin umat. Mereka harus mendapat tempat belajar yang layak,” kata HBA.
Bagi ratusan santri di Desa Timbulasi, perjalanan panjang HBA menembus pelosok Bungo bukan sekadar kunjungan seorang wakil rakyat.
Itu adalah tanda bahwa di tengah keterbatasan, masih ada yang mengulurkan tangan. Masih ada harapan untuk masa depan yang lebih baik.(Hi)
